Press "Enter" to skip to content

Mengulas Jual Beli Online dalam Ajaran Islam

Sekarang ini kita hidup di zaman teknologi, di mana segala sesuatu dapat dilakukan melalui teknologi canggih. Seperti bersilaturahmi melalui chatting, bertatap muka melalui skype, telepon gratis menggunakan aplikasi, dan melihat dunia melalui internet. Semua ini telah berkembang semakin hari. Dunia telah menuntut kita untuk terus maju dan berhadapan dengan segala hal yang berbau teknologi. Termasuk belanja praktis dan cepat melalui teknologi. Yaitu jual beli online pada situs-situs tertentu.

Berbisnis didalam ajaran agama Islam adalah suatu pekerjaan yang mulia. Karena telah mengadakan barang atau jasa yang dibutuhkan oleh orang yang membutuhkan. Berbisnis juga sangat erat kaitannya dengan roda kehidupan yang berhubungan dengan politik, budaya, sosial, dan ekonomi. Sejak kecil Rasulullah SAW telah melakukan transaksi bisnis. Namun ketika zaman Rasulullah SAW, transaksi jual beli menggunakan rukun dalam akad jual beli. Yang mana dinamakan Ijab dan qabul, dimana harus dengan syarat adanya dua orang yang berakad, barang yang akan dijual, dan ada harga yang dicantumkan. Jual beli atau disebut Bai’ menurut bahasa adalah telah mengambil dan memberikan. Sedangkan menurut fiqih, jual beli adalah adanya transaksi dimana harta ditukar dengan harta, saling suka, dan bertujuan untuk memilikinya. Ketika zaman Rasulullah SAW, jual beli via online belum ada. Sehingga masih terdapat pertanyaan bagi kaum mukmin yang ingin melakukannya. Karena jual beli via online atau berbisnis online dianggap memiliki dampak positif, dimana dapat menghemat waktu, praktis, cepat, dan mudah.

Rasulullah SAW telah memberikan syarat bahwa jual beli akan menjadi halal apabila diantara keduanya suka sama suka. Allah SWT pun telah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 275, yaitu: “……Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba…”. Sehingga jual beli via online termasuk dalam golongan yang halal. Hal itu berdasarkan Hadist Rasulullah SAW dan firman Allah SWT, dimana ketika adanya transaksi jual beli online penjual dan pembeli saling suka.

Karena sesuai dengan syarat sah jual beli dalam agama Islam. Pelaku akad harus memiliki akal dan kemampuan dalam memilih. Sedangkan barang yang akan di akad kan harus suci (halal), dapat bermanfaat, milik orang yang akan melakukan akad, dapat dipindahtangankan, mengetahui status barang, dan barang benar-benar bisa diterima oleh pihak yang melakukan akad. Perdagangan yang transaksinya tidak ditempat itu juga diperbolehkan, dengan syarat:

  • Tidak melanggar ketentuan syariat agama Islam (transaksi yang halal).
  • Barang harus ditampilkan wujudnya.
  • Dijelaskan ciri-ciri dan sifat barang.
  • Tidak adanya unsur monopoli.
  • Tidak adanya unsur mencuri atau menipu.
  • Adanya kontrol, sangsi, dan aturan hukum pemerintah yang menjamin bisnis ini.

Hal ini juga sesuai dengan pasal 1313 KUHP hukum perdata. Dimana disebutkan bahwa “Suatu persetujuan adalah suatu perbuatan di mana satu pihak mengikatkan diri terhadap pihak yang lain.” Ini sesuai dengan syarat sah nya kata sepakat, diantaranya:

  • Adanya kesepakatan yang mengikatkan diri.
  • Adanya kecakapan untuk membuat suatu perikatan.
  • Adanya pokok persoalan.
  • Tidak ada sebab yang dilarang.

Pasal 1458 KUHP hukum perdata pun berpendapat serupa yang berbunyi “Jual beli dianggap telah terjadi apabila orang-orang itu mencapai kesepakatan tentang barang beserta harganya, walaupun barang itu belum diserahkan dan dibayar”. Ini menegaskan bahwa jual beli via online dianggap sah dan dihalalkan menurut ajaran agama Islam dan menurut Undang-undang Negara Republik Indonesia. Sehingga sudah jelas adanya bahwa jual beli online dapat dilakukan dalam ajaran agama Islam, apabila telah memenuhi syarat-syarat yang telah dicantumkan.

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *